Embun Semibar, Nama Lain Bujang Kurap, Pengembara Sakti yang Menghabiskan Masa Tuanya di Kaki Bukit Sulap

Diposting pada

Selain cerita Silampari yang cukup fenomenal, masih ada cerita Bujang Kurap nama lainnya Embun Semibar yang cukup terkenal di Kota Lubuklinggau. Cerita ini kisah tokoh legendaris Lubuklinggau masa lampau.

Bujang Kurap, nama lainnya Embun Semibar, tokoh sakti legendaris Lubuklinggau. Bujang Kurap terkenal sakti di seluruh negeri, khususnya pada beberapa negeri di sekitar Bukit Sulap Lubuklinggau. Meskipun memiliki tubuh yang penuh dengan kurap dia tidak pernah putus asa dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Pengembaraannya banyak negeri selalu meninggalkan cerita tentang kepahlawanan serta keramahannya sesama mahluk. Dia terkenal sering menolong orang yang sedang kesusahan dan senantiasa jauh dari sifat sombong. Kesaktian yang dimiliki Bujang Kurap mendatangkan manfaat bagi semua orang.

Menurut cerita, Bujang Kurap dilahirkan di daerah melayu Bangko, Sarolangun Jambi. Bujang Kurap berasal dari keluarga berada tradisional menurut garis keturunan Datuk Saribijaya yang mempersunting Putri Sari Banilai. Dt. Saribijaya berasal dari Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Oleh karena itu, tidaklah heran bila Bujang Kurap terus tumbuh menjadi remaja yang berkepribadian luhur. Bujang Kurap dalam pengembaraannya banyak menuntut ilmu, baik ilmu bermasyarakat maupun ilmu kesaktian.

Walaupun dari kecil penyakit kurap yang diderita Bujang Kurap. Meskipun tidak berada di sekujur tubuhnya, namun penyakit tersebut seakan telah menjadi bagian dari takdir hidup Bujang Kurap. Awalnya penyakit kulit tersebut sangat mengganggu pergaulan Bujang Kurap. Dia merasa enggan untuk bergaul dengan masyarakat. Dia takut kehadirannya di tengah masyarakat hanya akan membuat resah dan ketakutan.

Nama Embun Semibar lekat di diri Bujang Kurap setelah menyelesaikan pertapaan panjang guna memeperdalam ilmu kesaktian. Nama tersebut merupakan pemberian gaib yang diterima Bujang Kurap setelah berhasil dengan tapanya. Bujang Kurap telah memiliki kesaktian yang tinggi dan semenjak itu penyakit Kurap betul-betul memenuhi sekujur tubuhnya.

Salah satu kesaktian Bujang Kurap adalah kemampuannya berubah rupa. Bujang Kurap bisa berubah menjadi apapun yang dia inginkan. Meskipun demikian, ilmu berubah rupa tidak pernah digunakannya untuk kejahatan. Di samping mampu berubah rupa, kurap di tubuh Bujang Kurap adalah senjata ampuh yang pada saat-saat tertentu digunakannya untuk mengalahkan musuh. Kelupas kurap Bujang Kurap akan berubah menjadi besi baja yang tajam serta sangat mumpuni untuk membunuh-lawan-lawannya. Tidak jarang Bujang Kurap terpaksa menggunakan lempeng-lempeng baja yang berasal dari kurap yang dia derita. Lawan sakti yang mesti dia hadapi pada satu waktu memaksa Bujang Kurab menggunakan lempeng baja yang berasal dari kelupas kulitnya karena penyakit kurab yang diderita.

Bujang Kurap mengembara dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Buruk rupa, senantiasa dibenci dan dicaci, namun tidak pernah berhenti menebar kebaikan. Setiap singgah di suatu negeri Bujang Kurap selalu meninggalkan cerita baik. Orang-orang yang ditinggalkan akan selalu mengenang pertolongan Bujang Kurap. Mereka berhutang budi karena biasanya tidak akan sempat membalas jasa. Berterima kasih pun kadang tidak sempat. Setelah memberikan pertolongan Bujang Kurap lebih memilih untuk pergi secara gaib sehingga tidak diketahui oleh orang. Itulah Bujang Kurap, penebar kebaikan tanpa berharap adanya balasan dari orang-orang yang ditolong.

Dalam pengembaraan panjangnya Bujang Kurap menimba banyak pengalaman dan ilmu yang bermanfaat. Ilmu kesaktiannya semakin mumpuni dan tidak terkalahkan. Bujang Kurap pun bertemu dengan banyak pendekar sakti dalam perjalanannya menumpas kejahatan. Diusia tuanya, segala ilmu dan pengalaman yang dimiliki dipraktikkan dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Di Ulak Lebar, sebuah negeri yang terletak di kaki Bukit Sulap Lubuklinggau, di daerah inilah Bujang Kurap menghabiskan masa tuanya. Masyarakat Ulak Lebar menerima Bujang Kurap apa adanya. Buruk Rupa yang dimiliki Bujang Kurap tidaklah penting bagi penduduk Ulak Lebar karena yang mereka butuhkan adalah pengalaman dan ilmu Bujang Kurap. Bujang Kurap adalah tokoh pengembara rendah hati. Meskipun berilmu tinggi Bujang Kurap tetaplah rendah hati.

Di kawasan Negeri Ulak Lebar, sebuah kawasan yang subur di kaki Bukit Sulap, Bujang Kurap mengahiri pengembaraannya. Lingkungan alam Ulak Lebar yang strategis. Kawasan ini dibentuk oleh tiga aliran sungai, yaitu Sungai Kesie, sungai Katie dan Sungai Kelingi. Di kawasan inilah sekarang terdapat menhir-menhir yang berjajar sebagai buah peradaban megelitikum. Menhir-menhir itu adalah adalah bukti pekuburan para kaum elit tradisional masyarakat Negeri Ulak Lebar pada zaman dahulu.

Di antara makam para pemimpin Negeri Ulak Lebar, tepatnya di tepi Sungai Kelingi dan sebelah Selatan Benteng Kuto Ulak Lebar, terdapat sebuah kuburan yang diberi tanda berupa sepasang megalitik. Masyarakat Lubuklinggau sekarang percaya bahwa itulah tempat persemayaman jasad Bujang Kurap atau Embun Semibar. Hingga sekarang kuburan Bujang Kurap masih dianggap keramat, terutama oleh keturunan penduduk asli Ulak Lebar. Masih dapat ditemukan peninggalan para penziarah setelah melakukan ritual di sekitar makam Bujang Kurap, seperti sisa sabut kelapa, piring kaleng dan lain sebagainya. Mereka percaya bahwa lokasi makam Bujang Kurap adalah tempat keramat yang tepat untuk dijadikan lokasi pelaksanaan ritual magis untuk tujuan kebaikan kehidupan di masa sekarang.

Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *