PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA SEJAK USIA DINI

Diposting pada

Penulis : Nurus Amzana, M.Pd.I

Sebagai orangtua, sangat penting untuk mengetahui pentingnya pendidikan anak usia dini. Pasalnya, pendidikan usia dini menjadi pondasi bagi si kecil dalam membangun kemampuan dasar yang diperlukan dalam pendidikannya di masa mendatang. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), anak usia dini adalah anak yang berusia 0-8 tahun. Pada periode ini, perkembangan otak anak sangat pesat karena mereka menyerap segala jenis informasi dari lingkungan dan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Di Indonesia, pendidikan anak usia dini diwujudkan dalam bentuk pendidikan prasekolah bernama PAUD untuk anak 0-6 tahun.

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang secara sadar dan sengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilaksanakan oleh orang dewasa  kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung secara terus menerus .

Anak-anak adalah manusia yang masih kecil yang belum dewasa dan memiliki berbagai potensi laten untuk tumbuh dan berkembang. Potensi tersebut adalah potensi jasmani yang berkaitan dengan fisik (motorik) dan juga potensi rohani yang berkaitan dengan kemampuan intelektual maupun spiritual dan termasuk di dalamnya nilai-nilai agama.

Muzayyin Arifin  mengartikan fitrah  berdasarkan pendapat para ulama sebagai suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya, di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang saling terkait dan saling menyempurnakan bagi kehidupan manusia, yaitu:

1. Kemampuan dasar beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada Islam saja. Sehingga manusia bisa dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani bahkan anti agama (ateis). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Islam antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.
2. Kemampuan dasar untuk beragama Islam, dimana faktor iman adalah intinya. Pendapat ini dikemukan oleh Muhammad Abduh, Ibnul Qayyim, Abu A’la Al Maududi, Sayyid Quthb, yaitu bahwasanya fitrah mengandung kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah dan identik dengan fitrah. Ali Fikry berpendapat bahwa faktor hereditas kejiwaan ( faktor keturunan psikologis ) dari orang tua merupakan salah satu aspek dari adanya kemampuan dasar manusia itu.
3. Mawahib (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Fitrah mengandung komponen psikologis yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang muslim merupakan elan vita (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi semangat untuk selalu mencari kebenaran hakiki dari Allah.
4. Fitrah adalah kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Dalam fitrah tidak terkandung komponen psikologis apapun. Pendapat ini dikemukakan oleh Al Gazhali.

Karena adanya fitrah ini, maka manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Manusia merasa di dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa tempat mereka memohon dan berlindung.

Anak lahir dalam keadaan suci, dan faktor penentu kualitas keagamaan sangat tergantung pada orang tua dan lingkungan. Jika keadaan anak yang masih suci itu tidak dikembangkan secara maksimal untuk hal-hal positif maka mereka akan tumbuh liar tak terkendali. Karena itulah pendidikan di usia dini sangat diperlukan agar potensi (fitrah) anak dapat berkembang dan tertanam kuat dalam diri anak.

PEMBAHASAN
Keberagamaan berarti perihal beragam.  Sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada pada diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama. Sikap keagamaan tersebut oleh adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan agama sebagai unsur afektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif/psikomotor

Jalaluddin Rakhmat juga mendefinisikan keberagamaan sebagai perilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung kepada nash. Nash merupakan sumber ajaran yaitu berupa teks baik lisan maupun tulisan yang sakral dan menjadi sumber rujukan bagi pemeluk agama. Untuk agama Islam Nashnya adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Keberagamaan dapat di definisikan sebagai segala perwujudan dari pengakuan seseorang terhadap sesuatu agama, tetapi keberagamaan bukanlah semata-mata karena seseorang mengaku beragama melainkan bagaimana agama yang dipeluk itu mempengaruhi seluruh hidup dan kehidupannya.

Dengan kata lain keberagamaan dapat diartikan sebagai realisasi dari ketaatan dan keterikatan manusia kepada aturan atau hukum yang tertuang dalam ajaran agama.
Dalam mengembangkan nilai-nilai keagamaan harus diperhatikan tahapan-tahapan perkembangan moral/spiritual anak sehingga lebih tepat dalam pelaksanannya. Perkembangan moral/spiritual  pada anak adalah sebagai berikut:
Masa kanak-kanak (sampai usia 7 tahun), tanda-tandanya adalah sebagai berikut :
Sikap keagamaan represif (menekan, mengekang, menahan, atau menindas)   meskipun banyak bertanya
Pandangan ketuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan)
Penghayatan secara rohaniyah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka salah melakukan atau partisipasi dalam kegiatan ritual
Hal ketuhanannya secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai taraf kemampuan kognitifnya yang masih bersifat egosentris (memandang segala sesuatu dari sudut pandang dirinya)
Masa anak sekolah
Sikap keagamaan bersifat reseptif  tetapi disertai pengertian.
Pandangan dan paham ketuhanannya diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta yang sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungannya.
Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan  kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.
Masa remaja (12-18 tahun)
Masa remaja awal yang ditandai dengan, antara lain :
Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara hypocrite yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sesuai dengan tindakannya.
Pandangan dalam hal ketuhanan menjadi kacau karena ia banyak membaca dan mendengar berbagai konsep pemikiran yang tidak cocok atau bertentangan satu sama lain.
Penghayatan rohaniahnya cenderung bersifat skeptic (diliputi oleh perasaan was-was), sehingga banyak yang enggan melakukan  berbagai kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan penuh kepatuhan.
b. Masa remaja akhir yang ditandai oleh, antara lain:
1. Sikap kembali, pada umumnya kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan hidupnya menjelang dewasa.
2. Pandangan dalam hal ketuhanan dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya.
3. Penghayatan rohaniahnya menjadi tenang.
4. Masa Dewasa yang ditandai:
a. Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
b. Cenderung bersifat realis sehingga noema-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
c. Bersikap positif terhadap norma, ajaran  dan nilai-nilai agama dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman agamanya.
d. Tingkat ketaatan beragama berdasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
e. Mereka lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
f. Bersikap lebih kritis terhadap ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pemikiran juga didasarkan pertimbangan hati nurani.
g. Sikap keberagaman cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami dan melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
h. Terlihat adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.

5. Usia Lanjut dengan ciri-ciri sikap keberagaman sebagai berikut:
a. Kehidupan beragama sudah mencapai kematangan.
b. Kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
c. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara  lebih sungguh-sungguh.
d. Sikap keagamaan cenderung mengarah pada kebutuhan cinta antarsesama manusia, serta sifat-sifat luhur.
e. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat seiring dengan pertambahan usia lanjut.
f. Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan akhirat.
Tahapan-tahapan perkembangan rasa keberagamaan pada setiap manusia berbeda-beda. Tidak semua orang mengalami fase-fase perkembangan yang sama dengan tahapan-tahapan diatas ada yang lambat dan ada juga yang perkembangan keberagamaannya lebih cepat dari batasan diatas.

Dalam sejarah ada seorang Imam Syafi’i yang pada usia beliau sudah mampu menghafal Al Quran dan pada usia yang sangat muda yaitu 15 tahun beliau sudah diizinkan memberikan fatwa karena keluasan ilmu dan pemahaman agama beliau. Hal itu berarti perkembangan keagamaan atau kematangan rohani beliau jauh lebih cepat dari fase perkembangan rasa keberagamaan pada umumnya. Beliau ini termasuk yang mengalami percepatan kematangan yang pada umumnya dikarenakan adanya kemampuan bakat tertentu yang istimewa (gifted children). Namun banyak sekali orang dewasa yang masih mempunyai sikap dan perilaku yang menunjukkan bahwa rasa keberagamaannya jauh dibawah fase perkembangan rasa keberamaan yang semestinya. Keadaan ini biasa disebut sebagai keterlambatan dalam perkembangan kepribadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *